Dinda Qoernia

TANPAMU AKU KOSONG SAHABATKU

Pages

Puisi Baru

Puisi baru bentuknya lebih bebas daripada puisi lama baik dalam segi jumlah baris, suku kata, maupun rima.
1. Ciri-ciri Puisi Baru
a) Bentuknya rapi, simetris;
b) Mempunyai persajakan akhir (yang teratur);
c) Banyak mempergunakan pola sajak pantun dan syair meskipun ada pola yang lain;
d) Sebagian besar puisi empat seuntai;
e) Tiap-tiap barisnya atas sebuah gatra (kesatuan sintaksis)
f) Tiap gatranya terdiri atas dua kata (sebagian besar) : 4-5 suku kata.

2. Jenis-jenis Puisi Baru
Menurut isinya, puisi dibedakan atas :
a) Balada adalah puisi berisi kisah/cerita
b) Himne adalah puisi pujaan untuk Tuhan, tanah air, atau pahlawan
c) Ode adalah puisi sanjungan untuk orang yang berjasa
d) Epigram adalah puisi yang berisi tuntunan/ajaran hidup
e) Romance adalah puisi yang berisi luapan perasaan cinta kasih
f) Elegi adalah puisi yang berisi ratap tangis/kesedihan
g) Satire adalah puisi yang berisi sindiran/kritik
Sedangkan macam-macam puisi baru dilihat dari bentuknya antara lain:
a) Distikon
b) Terzina
c) Quatrain
d) Quint
e) Sektet
f) Septime
g) Oktaf/Stanza
h) Soneta
3. Contoh dari Jenis-jenis Puisi Baru
Contoh jenis puisi menurut isinya :
a) BALADA
Puisi karya Sapardi Djoko Damono yang berjudul “ Balada Matinya Aeorang Pemberontak”
b) HYMNE
Bahkan batu-batu yang keras dan bisu
Mengagungkan nama-Mu dengan cara sendiri
Menggeliat derita pada lekuk dan liku
bawah sayatan khianat dan dusta.
Dengan hikmat selalu kupandang patung-Mu
menitikkan darah dari tangan dan kaki
dari mahkota duri dan membulan paku
Yang dikarati oleh dosa manusia.
Tanpa luka-luka yang lebar terbuka
dunia kehilangan sumber kasih
Besarlah mereka yang dalam nestapa
mengenal-Mu tersalib di datam hati.
(Saini S.K)
c) ODE
Generasi Sekarang
Di atas puncak gunung fantasi
Berdiri aku, dan dari sana
Mandang ke bawah, ke tempat berjuang
Generasi sekarang di panjang masa
Menciptakan kemegahan baru
Pantoen keindahan Indonesia
Yang jadi kenang-kenangan
Pada zaman dalam dunia
(Asmara Hadi)
d) EPIGRAM
Hari ini tak ada tempat berdiri
Sikap lamban berarti mati
Siapa yang bergerak, merekalah yang di depan
Yang menunggu sejenak sekalipun pasti tergilas.
(Iqbal)
e) ELEGI
Ini kali tidak ada yang mencari cinta
di antara gudang, rumah tua, pada cerita
tiang serta temali. Kapal, perahu tiada berlaut
menghembus diri dalam mempercaya mau berpaut
Gerimis mempercepat kelam. Ada juga kelepak elang
menyinggung muram, desir hari lari berenang
menemu bujuk pangkal akanan. Tidak bergerak
dan kini tanah dan air tidur hilang ombak.
Tiada lagi. Aku sendiri. Berjalan
menyisir semenanjung, masih pengap harap
sekali tiba di ujung dan sekalian selamat jalan
dari pantai keempat, sedu penghabisan bisa terdekap
f) SATIRE
Aku bertanya
tetapi pertanyaan-pertanyaanku
membentur jidad penyair-penyair salon,
yang bersajak tentang anggur dan rembulan,
sementara ketidakadilan terjadi
di sampingnya,
dan delapan juta kanak-kanak tanpa pendidikan,
termangu-mangu dl kaki dewi kesenian.
(Rendra)

Contoh jenis puisi dari bentuknya :
a) DISTIKON
Contoh :
Berkali kita gagal
Ulangi lagi dan cari akal
Berkali-kali kita jatuh
Kembali berdiri jangan mengeluh
(Or. Mandank)
b) TERZINA
Contoh :
Dalam ribaan bahagia datang
Tersenyum bagai kencana
Mengharum bagai cendana
Dalam bah’gia cinta tiba melayang
Bersinar bagai matahari
Mewarna bagaikan sari
Dari ; Madah Kelana
Karya : Sanusi Pane
c) QUATRAIN
Contoh :
Mendatang-datang jua
Kenangan masa lampau
Menghilang muncul jua
Yang dulu sinau silau
Membayang rupa jua
Adi kanda lama lalu
Membuat hati jua
Layu lipu rindu-sendu
(A.M. Daeng Myala)

d) QUINT
Contoh :
Hanya Kepada Tuan
Satu-satu perasaan
Hanya dapat saya katakan
Kepada tuan
Yang pernah merasakan
Satu-satu kegelisahan
Yang saya serahkan
Hanya dapat saya kisahkan
Kepada tuan
Yang pernah diresah gelisahkan
Satu-satu kenyataan
Yang bisa dirasakan
Hanya dapat saya nyatakan
Kepada tuan
Yang enggan menerima kenyataan
(Or. Mandank)
e) SEXTET
Contoh :
Merindu Bagia
Jika hari’lah tengah malam
Angin berhenti dari bernafas
Sukma jiwaku rasa tenggelam
Dalam laut tidak terwatas
Menangis hati diiris sedih
(Ipih)
f) SEPTIMA
Contoh :
Indonesia Tumpah Darahku
Duduk di pantai tanah yang permai
Tempat gelombang pecah berderai
Berbuih putih di pasir terderai
Tampaklah pulau di lautan hijau
Gunung gemunung bagus rupanya
Ditimpah air mulia tampaknya
Tumpah darahku Indonesia namanya
(Muhammad Yamin)
g) STANZA ( OCTAV )
Contoh :
Awan
Awan datang melayang perlahan
Serasa bermimpi, serasa berangan
Bertambah lama, lupa di diri
Bertambah halus akhirnya seri
Dan bentuk menjadi hilang
Dalam langit biru gemilang
Demikian jiwaku lenyap sekarang
Dalam kehidupan teguh tenang
(Sanusi Pane)
h) SONETA
Contoh :
Gembala
Perasaan siapa ta ‘kan nyala ( a )
Melihat anak berelagu dendang ( b )
Seorang saja di tengah padang ( b )
Tiada berbaju buka kepala ( a )
Beginilah nasib anak gembala ( a )
Berteduh di bawah kayu nan rindang ( b )
Semenjak pagi meninggalkan kandang ( b )
Pulang ke rumah di senja kala ( a )
Jauh sedikit sesayup sampai ( a )
Terdengar olehku bunyi serunai ( a )
Melagukan alam nan molek permai ( a )
Wahai gembala di segara hijau ( c )
Mendengarkan puputmu menurutkan kerbau ( c )
Maulah aku menurutkan dikau ( c )
(Muhammad Yamin)
4. Ciri-ciri dari Jenis Puisi Baru
v Ciri puisi dari Jenis isinya :
a) Balada
Ciri-ciri balada
Balada jenis ini terdiri dari 3 (tiga) bait, masing-masing dengan 8 (delapan) larik dengan skema rima a-b-a-b-b-c-c-b. Kemudian skema rima berubah menjadi a-b-a-b-b-c-b-c. Larik terakhir dalam bait pertama digunakan sebagai refren dalam bait-bait berikutnya.
b) Hymne
Ciri-ciri hymne
Lagu pujian untuk menghormati seorang dewa, Tuhan, seorang pahlawan, tanah air, atau alma mater (Pemandu di Dunia Sastra).
Sekarang ini, pengertian himne menjadi berkembang. Himne diartikan sebagai puisi yang dinyanyikan, berisi pujian terhadap sesuatu yang dihormati (guru, pahlawan, dewa, Tuhan) yang bernafaskan ke-Tuhan-an.
c) Ode
Ciri-ciri ode
Ciri ode nada dan gayanya sangat resmi (metrumnya ketat), bernada anggun, membahas sesuatu yang mulia, bersifat menyanjung baik terhadap pribadi tertentu atau peristiwa umum.
d) Epigram
Epigramma (Greek); unsur pengajaran; didaktik; nasihat membawa ke arah kebenaran untuk dijadikan pedoman, ikhtibar; ada teladan.
e) Romance
Romantique (Perancis); keindahan perasaan; persoalan kasih sayang, rindu dendam, serta kasih mesra
f) Elegi
Ciri-ciri elegi
Sajak atau lagu yang mengungkapkan rasa duka atau keluh kesah karena sedih atau rindu, terutama karena kematian/kepergian seseorang.
g) Satire
Satura (Latin) ; sindiran ; kecaman tajam terhadap sesuatu fenomena; tidak puas hati satu golongan (ke atas pemimpin yang pura-pura, rasuah, zalim etc)
v Ciri puisi dari Jenis bentuknya :
a) Distikon
  • • 2 baris; sajak 2 seuntai
    • Distikon (Greek: 2 baris)
    • Rima –  aa
    –  bb
b) Terzina
Terzina (Itali: 3 irama)
c) Quatrain
  • • Quatrain (Perancis: 4 baris)
    • Pada asalnya ada 4 rangkap
    • Dipelopori di Malaysia oleh Mahsuri S.N.
d) Quint
Pada asalnya, rima Quint adalah /aaaaa/ tetapi kini 5 baris dalam serangkap diterima umum sebagai Quint (perubahan ini dikatakan berpunca dari kesukaran penyair untuk membina rima /aaaaa/
e) Sextet
  • • sextet (latin: 6 baris)
    • Dikenali sebagai ‘terzina ganda dua’
    • Rima akhir bebas
f) Septima
  • • septime (Latin: 7 baris)
    • Rima akhir bebas
g) Oktav
  • • Oktaf (Latin: 8 baris)
    • Dikenali sebagai ‘double Quatrain’
h) Soneta
ciri – ciri soneta :
  • · Terdiri atas 14 baris
  • · Terdiri atas 4 bait, yang terdiri atas 2 quatrain dan 2 terzina
  • · Dua quatrain merupakan sampiran dan merupakan satu kesatuan yang disebut octav.
  • · Dua terzina merupakan isi dan merupakan satu kesatuan yang disebut isi yang disebut sextet.
  • · Bagian sampiran biasanya berupa gambaran alam
  • · Sextet berisi curahan atau jawaban atau kesimpulan daripada apa yang dilukiskan dalam ocvtav , jadi sifatnya subyektif.
  • · Peralihan dari octav ke sextet disebut volta
  • · Penambahan baris pada soneta disebut koda.
  • · Jumlah suku kata dalam tiap-tiap baris biasanya antara 9 – 14 suku kata
  • · Rima akhirnya adalah a – b – b – a, a – b – b – a, c – d – c, d – c – d.
oleh dinda (admin)

Wahai Guru yg sangat berjasa
Yang telah mengajar kita semua
Kasih sayang tulus dari dirinya
Yang tak mungkin akan terlupa

Engkau adalah pahlawan tanpa jasa
Dengan pelajaranmu yang tak sia-sia
Kau mengajarkan ilmu yang sesungguhnya
Bersamamu adalah saat penuh makna

Wahai Guru, nasihatmu takkan pernah kulupa
Walau kita takkan selamanya bersama
Aku akan tetap berusaha
Agar dapat membuatmu bangga

at 2:06 AM Posted by Qoer 0 Comments

       Liburan tahun ini, aku dan keluargaku pulang ke kampung halaman mama. Kami menginap di rumah tempat mama dilahirkan. Rumah yang sangat besar dan tua itu kini hanya di tempati oleh seorang kakek penjaga rumah.
       Sebenarnya aku sudah pernah mengunjungi rumah itu. Tapi, waktu itu aku masih kecil, jadi aku tidak ingat jelas keadaan rumah waktu itu. Maka dari itu, sepanjang liburan kali ini aku mendapat pengalaman yang seru dan baru bagiku.
       Sore itu, aku dimarahi habis-habisan oleh mama. Karena menurutnya aku terlalu banyak mengeluh soal rumah itu. Maklum, selain lembab, banyak nyamuk dan kecoa, serta serangga lainnya, juga terlalu seram bagiku. Aku tidak sadar bahwa keluh kesahku itu menyakiti hati mama, karena mama sangat mencintai rumah itu.
       Karena sedih dimarahi mama, aku menyendiri di perpustakaan keluarga yang tak kalah lembab dan tua. Buku-bukunya sudah menguning, ada yang rusak dan baunya minta ampun.
       Aku duduk di kursi goyang berukir yang masih kokoh. Kupandangi foto keluarga hitam putih yang hampir pudar, dibawah figura itu tertulis, "kembalilah bila kalian lelah, rumah ini akan mencerahkan jiwamu."
       "Kembalilah bila kalian lelah, rumah ini akan mencerahkan jiwamu," kugumamkan kalimat itu berkali-kali. Mungkinkah  mama juga sedang lelah, sehingga dia kembali ke rumah ini? Yah, kadang mama memang ke rumah ini sendirian. Mungkin banyak hal menyenangkan yang mama alami di rumah ini.
       "Rose! Kamu belum menyelesaikan buku tipis itu? Waktumu sudah habis! Sekarang jawab pertanyaan bapak!" Tiba-tiba aku melihat pemandangan seorang lelaki separuh baya sedang membentak seorang gadis kecil kurus berkacamata.
       Kemudian, lelaki tersebut menyodorkan banyak pertanyaan seputar isi buku tipis itu. Bila jawaban gadis itu salah, maka telapak tangannya akan mendapat satu pukulan penggaris kayu. Adegan didepanku itu pun berakhir. Ku terdiam, mengambil nafas panjang. Tubuhku kaku dan aku tak dapat bergerak. Mulutku seperti terkunci.
       "Rose!" Gadis itu bernama Rose. Bukankah itu nama mamaku? Belum lagi rasa penasaranku hilang, pintu perpustakaan tiba-tiba terbuka. Gadis kecil itu masuk, lalu merapikan buku-buku dalam rak. "Rose, ayo ketik!!" Lelaki muda memasuki perpustakaan sambil membawa mesin ketik serta kertas.
       Rose menurut. Si lelaki muda yg di panggil kakak itu hanya duduk santai sambil mengoceh. Sedangkan Rose, si gadis kecil berkacamata itu sibuk mengetik apa yang di ucapkan kakaknya. Dan adegan itu di akhiri dengan si gadis kecil berkacamata yang sibuk meniup ujung jarinya yang mungkin terasa panas dan sakit. Kemudian, ia tertidur di atas sofa karena kelelahan. Aku masih tidak dapat bergerak. Aku yakin, aku sedang tidak bermimpi karena aku tidak tidur. Tapi mengapa aku tak bisa menggerakkan tubuhku dan berteriak memanggil mama?
       Lagi-lagi aku melihat si gadis kecil itu. Kli ini dia menangis sambil menatap buku yang terbuka di hadapannya. Di sisinya ada seorang perempuan muda sibuk memarahinya. "Inikan, hitungan mudah! Sudah berkali-kali kuajari, masa tetap saja nggak bisa,sih? Kalau kamu nggak rajin belajar, bagaimana dengan masa depanmu nanti?" Setelah puas dengan amarahnya, perempuan itu pergi begitu saja.
       Si gadis kecil itu masih menangis tersedu-sedu. Entah mengapa dadaku ikut sesak menyaksikan adegan itu. Belum kering air matanya, si kakak yang suka mengoceh itu datang dan minta di pijatin kakinya. Lagi-lagi adegan itu lama sekali, di selingi dengan umpatan marah bila pijatan tangan gadis kecil itu kurang kuat.
      Tiba-tiba, dup..! Perpustakaan itu mendadak gelap. Mungkinkah mati lampu? Ah tidak, karena tiba-tiba ruangan itu kembali terang, menerangi beberapa orang yang terliht tegang. "Bagian Satria adalah tanah dan rumah ini. Bagian Tari adalah sawah. Kebun jati untuk Intan. Kebun tembakau untuk Hana. Dan untuk Rose..."
      Ah, pemandangan kali ini memperlihatkan si gadis kecil itu sudah menjadi gadis remaja yang cantik. Meski masih berkacamata, ia tampak anggun dan cerdas. Ia menatap bapaknya yang sudah terlihat tua dan sakit. "Bagianmu sudah kutitipkan kepada seorang rektor di sebuah universitas. Cukup untuk kuliah dan biaya hidupmu, sampai kamu lulus. Kamu harus menyelesaikan kuliahmu tepat waktu, jika tak ingin kehabisan uang. Kamu satu-satunya harapanku."
      Rose tersenyum, lalu mengangguk. Kali ini aku yakin bahwa dialah mamaku. Aku bisa mengenalinya dari senyumannya yng lembut. "Apa yang kamu lakukan disini, Clara?" Tiba-tiba terdengar suara menyapaku. Dengan segera aku memeluk mamaku dan meminta maaf kepadanya tentang rumah ini. "Kamu kenapa sayang?" Tanya mama bingung. "Mama, aku tahu dulu mama menderita saat kecil. Mama selalu di hukum kakek dan di marahi oleh saudara mama. Tpi, mama tetap sabar hingga kini mama menjadi yang tersukses di antara mereka."
      Mama menitikkan air mata dan memelukku. "Itulah sebabnya kenapa mama sangat mencintai rumah ini." Pengalaman kali ini telah menyadarkanku untuk mulai memperbaiki diri dan tidak menjadi anak yang cengeng dan manja lagi.

Karya: Zahratul Mardyah

Pengabdianmu sungguh menyatu
Bersama langkah perjuanganmu
Menolong orang yang tak berilmu
Bersusah payah memberi tahu

Dengan menelusuri jejak langkahmu
Aku pantang menyerah karenamu
Mewujudkan rasa jerih payahmu
Tanpa ada rasa keluh kesah darimu

Engkau sungguh pahlawan bangsa bagiku
Bersusah payah untuk mengajariku
Dengan semangat badai perkasamu
Ku terjang dengan seluruh upayamu

penulis : dinda

IBU

at 1:08 AM Posted by Qoer 0 Comments

Seorang ibu yang tua renta
Tiap harinya hidup sengsara
Penuh suka dan duka
Semua diawali dengan senyum bahagia

Mencari nafkah setiap hari
Demi memenuhi hidup si buah hati
Seorang yang sangat disayangi
Apapun akan dilakukannya demi si buah hati

Hidup tak pernah keberatan
Walau penuh kekurangan
Namun panjatkan syukur pada tuhan
Atas segala yang diberikan

penulis : Dinda

Friday, November 2, 2012

Puisi Baru

Puisi Baru

Puisi baru bentuknya lebih bebas daripada puisi lama baik dalam segi jumlah baris, suku kata, maupun rima.
1. Ciri-ciri Puisi Baru
a) Bentuknya rapi, simetris;
b) Mempunyai persajakan akhir (yang teratur);
c) Banyak mempergunakan pola sajak pantun dan syair meskipun ada pola yang lain;
d) Sebagian besar puisi empat seuntai;
e) Tiap-tiap barisnya atas sebuah gatra (kesatuan sintaksis)
f) Tiap gatranya terdiri atas dua kata (sebagian besar) : 4-5 suku kata.

2. Jenis-jenis Puisi Baru
Menurut isinya, puisi dibedakan atas :
a) Balada adalah puisi berisi kisah/cerita
b) Himne adalah puisi pujaan untuk Tuhan, tanah air, atau pahlawan
c) Ode adalah puisi sanjungan untuk orang yang berjasa
d) Epigram adalah puisi yang berisi tuntunan/ajaran hidup
e) Romance adalah puisi yang berisi luapan perasaan cinta kasih
f) Elegi adalah puisi yang berisi ratap tangis/kesedihan
g) Satire adalah puisi yang berisi sindiran/kritik
Sedangkan macam-macam puisi baru dilihat dari bentuknya antara lain:
a) Distikon
b) Terzina
c) Quatrain
d) Quint
e) Sektet
f) Septime
g) Oktaf/Stanza
h) Soneta
3. Contoh dari Jenis-jenis Puisi Baru
Contoh jenis puisi menurut isinya :
a) BALADA
Puisi karya Sapardi Djoko Damono yang berjudul “ Balada Matinya Aeorang Pemberontak”
b) HYMNE
Bahkan batu-batu yang keras dan bisu
Mengagungkan nama-Mu dengan cara sendiri
Menggeliat derita pada lekuk dan liku
bawah sayatan khianat dan dusta.
Dengan hikmat selalu kupandang patung-Mu
menitikkan darah dari tangan dan kaki
dari mahkota duri dan membulan paku
Yang dikarati oleh dosa manusia.
Tanpa luka-luka yang lebar terbuka
dunia kehilangan sumber kasih
Besarlah mereka yang dalam nestapa
mengenal-Mu tersalib di datam hati.
(Saini S.K)
c) ODE
Generasi Sekarang
Di atas puncak gunung fantasi
Berdiri aku, dan dari sana
Mandang ke bawah, ke tempat berjuang
Generasi sekarang di panjang masa
Menciptakan kemegahan baru
Pantoen keindahan Indonesia
Yang jadi kenang-kenangan
Pada zaman dalam dunia
(Asmara Hadi)
d) EPIGRAM
Hari ini tak ada tempat berdiri
Sikap lamban berarti mati
Siapa yang bergerak, merekalah yang di depan
Yang menunggu sejenak sekalipun pasti tergilas.
(Iqbal)
e) ELEGI
Ini kali tidak ada yang mencari cinta
di antara gudang, rumah tua, pada cerita
tiang serta temali. Kapal, perahu tiada berlaut
menghembus diri dalam mempercaya mau berpaut
Gerimis mempercepat kelam. Ada juga kelepak elang
menyinggung muram, desir hari lari berenang
menemu bujuk pangkal akanan. Tidak bergerak
dan kini tanah dan air tidur hilang ombak.
Tiada lagi. Aku sendiri. Berjalan
menyisir semenanjung, masih pengap harap
sekali tiba di ujung dan sekalian selamat jalan
dari pantai keempat, sedu penghabisan bisa terdekap
f) SATIRE
Aku bertanya
tetapi pertanyaan-pertanyaanku
membentur jidad penyair-penyair salon,
yang bersajak tentang anggur dan rembulan,
sementara ketidakadilan terjadi
di sampingnya,
dan delapan juta kanak-kanak tanpa pendidikan,
termangu-mangu dl kaki dewi kesenian.
(Rendra)

Contoh jenis puisi dari bentuknya :
a) DISTIKON
Contoh :
Berkali kita gagal
Ulangi lagi dan cari akal
Berkali-kali kita jatuh
Kembali berdiri jangan mengeluh
(Or. Mandank)
b) TERZINA
Contoh :
Dalam ribaan bahagia datang
Tersenyum bagai kencana
Mengharum bagai cendana
Dalam bah’gia cinta tiba melayang
Bersinar bagai matahari
Mewarna bagaikan sari
Dari ; Madah Kelana
Karya : Sanusi Pane
c) QUATRAIN
Contoh :
Mendatang-datang jua
Kenangan masa lampau
Menghilang muncul jua
Yang dulu sinau silau
Membayang rupa jua
Adi kanda lama lalu
Membuat hati jua
Layu lipu rindu-sendu
(A.M. Daeng Myala)

d) QUINT
Contoh :
Hanya Kepada Tuan
Satu-satu perasaan
Hanya dapat saya katakan
Kepada tuan
Yang pernah merasakan
Satu-satu kegelisahan
Yang saya serahkan
Hanya dapat saya kisahkan
Kepada tuan
Yang pernah diresah gelisahkan
Satu-satu kenyataan
Yang bisa dirasakan
Hanya dapat saya nyatakan
Kepada tuan
Yang enggan menerima kenyataan
(Or. Mandank)
e) SEXTET
Contoh :
Merindu Bagia
Jika hari’lah tengah malam
Angin berhenti dari bernafas
Sukma jiwaku rasa tenggelam
Dalam laut tidak terwatas
Menangis hati diiris sedih
(Ipih)
f) SEPTIMA
Contoh :
Indonesia Tumpah Darahku
Duduk di pantai tanah yang permai
Tempat gelombang pecah berderai
Berbuih putih di pasir terderai
Tampaklah pulau di lautan hijau
Gunung gemunung bagus rupanya
Ditimpah air mulia tampaknya
Tumpah darahku Indonesia namanya
(Muhammad Yamin)
g) STANZA ( OCTAV )
Contoh :
Awan
Awan datang melayang perlahan
Serasa bermimpi, serasa berangan
Bertambah lama, lupa di diri
Bertambah halus akhirnya seri
Dan bentuk menjadi hilang
Dalam langit biru gemilang
Demikian jiwaku lenyap sekarang
Dalam kehidupan teguh tenang
(Sanusi Pane)
h) SONETA
Contoh :
Gembala
Perasaan siapa ta ‘kan nyala ( a )
Melihat anak berelagu dendang ( b )
Seorang saja di tengah padang ( b )
Tiada berbaju buka kepala ( a )
Beginilah nasib anak gembala ( a )
Berteduh di bawah kayu nan rindang ( b )
Semenjak pagi meninggalkan kandang ( b )
Pulang ke rumah di senja kala ( a )
Jauh sedikit sesayup sampai ( a )
Terdengar olehku bunyi serunai ( a )
Melagukan alam nan molek permai ( a )
Wahai gembala di segara hijau ( c )
Mendengarkan puputmu menurutkan kerbau ( c )
Maulah aku menurutkan dikau ( c )
(Muhammad Yamin)
4. Ciri-ciri dari Jenis Puisi Baru
v Ciri puisi dari Jenis isinya :
a) Balada
Ciri-ciri balada
Balada jenis ini terdiri dari 3 (tiga) bait, masing-masing dengan 8 (delapan) larik dengan skema rima a-b-a-b-b-c-c-b. Kemudian skema rima berubah menjadi a-b-a-b-b-c-b-c. Larik terakhir dalam bait pertama digunakan sebagai refren dalam bait-bait berikutnya.
b) Hymne
Ciri-ciri hymne
Lagu pujian untuk menghormati seorang dewa, Tuhan, seorang pahlawan, tanah air, atau alma mater (Pemandu di Dunia Sastra).
Sekarang ini, pengertian himne menjadi berkembang. Himne diartikan sebagai puisi yang dinyanyikan, berisi pujian terhadap sesuatu yang dihormati (guru, pahlawan, dewa, Tuhan) yang bernafaskan ke-Tuhan-an.
c) Ode
Ciri-ciri ode
Ciri ode nada dan gayanya sangat resmi (metrumnya ketat), bernada anggun, membahas sesuatu yang mulia, bersifat menyanjung baik terhadap pribadi tertentu atau peristiwa umum.
d) Epigram
Epigramma (Greek); unsur pengajaran; didaktik; nasihat membawa ke arah kebenaran untuk dijadikan pedoman, ikhtibar; ada teladan.
e) Romance
Romantique (Perancis); keindahan perasaan; persoalan kasih sayang, rindu dendam, serta kasih mesra
f) Elegi
Ciri-ciri elegi
Sajak atau lagu yang mengungkapkan rasa duka atau keluh kesah karena sedih atau rindu, terutama karena kematian/kepergian seseorang.
g) Satire
Satura (Latin) ; sindiran ; kecaman tajam terhadap sesuatu fenomena; tidak puas hati satu golongan (ke atas pemimpin yang pura-pura, rasuah, zalim etc)
v Ciri puisi dari Jenis bentuknya :
a) Distikon
  • • 2 baris; sajak 2 seuntai
    • Distikon (Greek: 2 baris)
    • Rima –  aa
    –  bb
b) Terzina
Terzina (Itali: 3 irama)
c) Quatrain
  • • Quatrain (Perancis: 4 baris)
    • Pada asalnya ada 4 rangkap
    • Dipelopori di Malaysia oleh Mahsuri S.N.
d) Quint
Pada asalnya, rima Quint adalah /aaaaa/ tetapi kini 5 baris dalam serangkap diterima umum sebagai Quint (perubahan ini dikatakan berpunca dari kesukaran penyair untuk membina rima /aaaaa/
e) Sextet
  • • sextet (latin: 6 baris)
    • Dikenali sebagai ‘terzina ganda dua’
    • Rima akhir bebas
f) Septima
  • • septime (Latin: 7 baris)
    • Rima akhir bebas
g) Oktav
  • • Oktaf (Latin: 8 baris)
    • Dikenali sebagai ‘double Quatrain’
h) Soneta
ciri – ciri soneta :
  • · Terdiri atas 14 baris
  • · Terdiri atas 4 bait, yang terdiri atas 2 quatrain dan 2 terzina
  • · Dua quatrain merupakan sampiran dan merupakan satu kesatuan yang disebut octav.
  • · Dua terzina merupakan isi dan merupakan satu kesatuan yang disebut isi yang disebut sextet.
  • · Bagian sampiran biasanya berupa gambaran alam
  • · Sextet berisi curahan atau jawaban atau kesimpulan daripada apa yang dilukiskan dalam ocvtav , jadi sifatnya subyektif.
  • · Peralihan dari octav ke sextet disebut volta
  • · Penambahan baris pada soneta disebut koda.
  • · Jumlah suku kata dalam tiap-tiap baris biasanya antara 9 – 14 suku kata
  • · Rima akhirnya adalah a – b – b – a, a – b – b – a, c – d – c, d – c – d.
oleh dinda (admin)

Monday, November 21, 2011

GURU

Wahai Guru yg sangat berjasa
Yang telah mengajar kita semua
Kasih sayang tulus dari dirinya
Yang tak mungkin akan terlupa

Engkau adalah pahlawan tanpa jasa
Dengan pelajaranmu yang tak sia-sia
Kau mengajarkan ilmu yang sesungguhnya
Bersamamu adalah saat penuh makna

Wahai Guru, nasihatmu takkan pernah kulupa
Walau kita takkan selamanya bersama
Aku akan tetap berusaha
Agar dapat membuatmu bangga

Liburan Di Rumah Tua

       Liburan tahun ini, aku dan keluargaku pulang ke kampung halaman mama. Kami menginap di rumah tempat mama dilahirkan. Rumah yang sangat besar dan tua itu kini hanya di tempati oleh seorang kakek penjaga rumah.
       Sebenarnya aku sudah pernah mengunjungi rumah itu. Tapi, waktu itu aku masih kecil, jadi aku tidak ingat jelas keadaan rumah waktu itu. Maka dari itu, sepanjang liburan kali ini aku mendapat pengalaman yang seru dan baru bagiku.
       Sore itu, aku dimarahi habis-habisan oleh mama. Karena menurutnya aku terlalu banyak mengeluh soal rumah itu. Maklum, selain lembab, banyak nyamuk dan kecoa, serta serangga lainnya, juga terlalu seram bagiku. Aku tidak sadar bahwa keluh kesahku itu menyakiti hati mama, karena mama sangat mencintai rumah itu.
       Karena sedih dimarahi mama, aku menyendiri di perpustakaan keluarga yang tak kalah lembab dan tua. Buku-bukunya sudah menguning, ada yang rusak dan baunya minta ampun.
       Aku duduk di kursi goyang berukir yang masih kokoh. Kupandangi foto keluarga hitam putih yang hampir pudar, dibawah figura itu tertulis, "kembalilah bila kalian lelah, rumah ini akan mencerahkan jiwamu."
       "Kembalilah bila kalian lelah, rumah ini akan mencerahkan jiwamu," kugumamkan kalimat itu berkali-kali. Mungkinkah  mama juga sedang lelah, sehingga dia kembali ke rumah ini? Yah, kadang mama memang ke rumah ini sendirian. Mungkin banyak hal menyenangkan yang mama alami di rumah ini.
       "Rose! Kamu belum menyelesaikan buku tipis itu? Waktumu sudah habis! Sekarang jawab pertanyaan bapak!" Tiba-tiba aku melihat pemandangan seorang lelaki separuh baya sedang membentak seorang gadis kecil kurus berkacamata.
       Kemudian, lelaki tersebut menyodorkan banyak pertanyaan seputar isi buku tipis itu. Bila jawaban gadis itu salah, maka telapak tangannya akan mendapat satu pukulan penggaris kayu. Adegan didepanku itu pun berakhir. Ku terdiam, mengambil nafas panjang. Tubuhku kaku dan aku tak dapat bergerak. Mulutku seperti terkunci.
       "Rose!" Gadis itu bernama Rose. Bukankah itu nama mamaku? Belum lagi rasa penasaranku hilang, pintu perpustakaan tiba-tiba terbuka. Gadis kecil itu masuk, lalu merapikan buku-buku dalam rak. "Rose, ayo ketik!!" Lelaki muda memasuki perpustakaan sambil membawa mesin ketik serta kertas.
       Rose menurut. Si lelaki muda yg di panggil kakak itu hanya duduk santai sambil mengoceh. Sedangkan Rose, si gadis kecil berkacamata itu sibuk mengetik apa yang di ucapkan kakaknya. Dan adegan itu di akhiri dengan si gadis kecil berkacamata yang sibuk meniup ujung jarinya yang mungkin terasa panas dan sakit. Kemudian, ia tertidur di atas sofa karena kelelahan. Aku masih tidak dapat bergerak. Aku yakin, aku sedang tidak bermimpi karena aku tidak tidur. Tapi mengapa aku tak bisa menggerakkan tubuhku dan berteriak memanggil mama?
       Lagi-lagi aku melihat si gadis kecil itu. Kli ini dia menangis sambil menatap buku yang terbuka di hadapannya. Di sisinya ada seorang perempuan muda sibuk memarahinya. "Inikan, hitungan mudah! Sudah berkali-kali kuajari, masa tetap saja nggak bisa,sih? Kalau kamu nggak rajin belajar, bagaimana dengan masa depanmu nanti?" Setelah puas dengan amarahnya, perempuan itu pergi begitu saja.
       Si gadis kecil itu masih menangis tersedu-sedu. Entah mengapa dadaku ikut sesak menyaksikan adegan itu. Belum kering air matanya, si kakak yang suka mengoceh itu datang dan minta di pijatin kakinya. Lagi-lagi adegan itu lama sekali, di selingi dengan umpatan marah bila pijatan tangan gadis kecil itu kurang kuat.
      Tiba-tiba, dup..! Perpustakaan itu mendadak gelap. Mungkinkah mati lampu? Ah tidak, karena tiba-tiba ruangan itu kembali terang, menerangi beberapa orang yang terliht tegang. "Bagian Satria adalah tanah dan rumah ini. Bagian Tari adalah sawah. Kebun jati untuk Intan. Kebun tembakau untuk Hana. Dan untuk Rose..."
      Ah, pemandangan kali ini memperlihatkan si gadis kecil itu sudah menjadi gadis remaja yang cantik. Meski masih berkacamata, ia tampak anggun dan cerdas. Ia menatap bapaknya yang sudah terlihat tua dan sakit. "Bagianmu sudah kutitipkan kepada seorang rektor di sebuah universitas. Cukup untuk kuliah dan biaya hidupmu, sampai kamu lulus. Kamu harus menyelesaikan kuliahmu tepat waktu, jika tak ingin kehabisan uang. Kamu satu-satunya harapanku."
      Rose tersenyum, lalu mengangguk. Kali ini aku yakin bahwa dialah mamaku. Aku bisa mengenalinya dari senyumannya yng lembut. "Apa yang kamu lakukan disini, Clara?" Tiba-tiba terdengar suara menyapaku. Dengan segera aku memeluk mamaku dan meminta maaf kepadanya tentang rumah ini. "Kamu kenapa sayang?" Tanya mama bingung. "Mama, aku tahu dulu mama menderita saat kecil. Mama selalu di hukum kakek dan di marahi oleh saudara mama. Tpi, mama tetap sabar hingga kini mama menjadi yang tersukses di antara mereka."
      Mama menitikkan air mata dan memelukku. "Itulah sebabnya kenapa mama sangat mencintai rumah ini." Pengalaman kali ini telah menyadarkanku untuk mulai memperbaiki diri dan tidak menjadi anak yang cengeng dan manja lagi.

Karya: Zahratul Mardyah

Friday, October 28, 2011

GURUKU

Pengabdianmu sungguh menyatu
Bersama langkah perjuanganmu
Menolong orang yang tak berilmu
Bersusah payah memberi tahu

Dengan menelusuri jejak langkahmu
Aku pantang menyerah karenamu
Mewujudkan rasa jerih payahmu
Tanpa ada rasa keluh kesah darimu

Engkau sungguh pahlawan bangsa bagiku
Bersusah payah untuk mengajariku
Dengan semangat badai perkasamu
Ku terjang dengan seluruh upayamu

penulis : dinda

IBU

Seorang ibu yang tua renta
Tiap harinya hidup sengsara
Penuh suka dan duka
Semua diawali dengan senyum bahagia

Mencari nafkah setiap hari
Demi memenuhi hidup si buah hati
Seorang yang sangat disayangi
Apapun akan dilakukannya demi si buah hati

Hidup tak pernah keberatan
Walau penuh kekurangan
Namun panjatkan syukur pada tuhan
Atas segala yang diberikan

penulis : Dinda

.

    Search

    Followers

    Lorem ipsum